6 Cara Jenius Menghemat Biaya Makan

Jenius karena bikin menabung demi investasi jadi mungkin bagi keuangan UMR.

Yang ajaib dari pos pengeluaran makan adalah intervalnya yang sangat lebar. Bak karet. Mau dibuat 10 ribu per hari bisa, dibuat 100 ribu juga bisa. Dan selisih antara masak sendiri dan makan di luar bisa bikin takjub. Nah, yang harus kita pahami: nasib keuangan keluarga ditentukan oleh keputusan remeh-temeh yang dibuat harian. Contohnya yang berkaitan dengan makan ini. Kemampuan berhemat keluarga yang seminggu sekali harus makan bebek tapi asik-asik aja makan Nasi-Bebek-Enak-Nggak-Enak-Buatan-Mama pasti jauh dengan keluarga yang kalau pingin Nasi Bebek harus nyebrang Selat Madura.

Seberapa besar potensi penghasilan kita menghasilkan kesejahteraan bisa dilihat dari porsi biaya makan dibanding total penghasilan. Kalau untuk makan aja tembus separuh, coba garap biaya makan dulu sebelum menyimpulkan sempitnya keuangan rumah-tangga kita adalah takdir.

Maka dari itu, di daftar ketrampilan yang harus dikuasai seorang IRT, masak kutaruh di nomor 3 setelah keuangan dan pendidikan anak. Jangan mikir keahlian selevel Master Chef yang masak rumput Jepang pun jadinya pasti enak. Ada hubungannya dengan kenapa keuangan kutaruh di nomor satu.

Ketrampilan masak IRT lebih tentang efisiensi biaya. Jadi jangan bingung dengan perbendaharaan resep yang hanya cukup buat bertahan hidup. Dalam jangka panjang keluarga kita lebih membutuhkan IRT yang masaknya itu-itu aja tapi pintar dengan uang daripada yang pintar masak tapi pengelolaan keuangannya di situ-situ aja habis buat makan (dan peralatan masak-masak dan koleksi barang pecah-belah yang semuanya belum tentu seumur hidup dipakai sekali..).

Masak sendiri memang nggak mutlak pasti lebih hemat. Tetap ada caranya. Semua ada ilmunya. Jadi di pos ini kukumpulkan cara-cara yang bisa mengurangi dorongan makan di luar atau makan beli. Apa kita sepakat itu penyebab No.1 tingginya biaya makan? Kumasukkan juga satu cara bukan masak sendiri yang jatuhnya tetap lebih murah.

Cara#1: Merencanakan Menu

Pernah dengar 20 Second Rule? Aku juga baru tahu. Aturan ini menjelaskan kecenderungan prilaku manusia dalam mengerjakan sesuatu. Kalau dalam 20 detik pertama kita bisa langsung turun-tangan nggarap, maka apapun itu yang ingin kita tandangi kemungkinan besar akan kita tuntaskan. Kalau nggak, kemungkinan besar nggak akan kita tandangi (meski harus) atau mandeg di tengah jalan. Diterapkan di masak, jadinya seperti ini:

kalau tiap masak kita harus mikir dulu mau masak apa, harus cari-cari resepnya, harus belanja bahan-bahannya dulu, ujung-ujungnya pasti males.

Padahal perut dah lapar. Akhirnya makan di luar atau beli lauk.

Prinsip kerja perencanaan menu sebetulnya sederhana tapi memang butuh komitmen dan disiplin diri. Siapkan satu hari khusus untuk bikin menu 7 hari ke depan sekaligus bikin daftar belanja bahan. Lebih bagus kalau belanjanya diselesaikan hari itu juga. Karena butuh waktu yang lumayan panjang, orang biasanya mengalokasikan hari Minggu untuk menyelesaikan semuanya. Jadi repotnya di depan. Tujuh hari berikutnya 1-2 jam sebelum jam makan atau berangkat kerja tinggal kupas-potong bahan untuk diolah.

Dari Silmina Ulfah aku tahu tentang perencanaan Menu 10 Hari. Kenapa 10 hari? Biar bisa diulang-ulang, nggak perlu ganti rancangan tiap 7 hari. Kalau mengulang Rencana 10-Hari, menu yang sama diulang di hari yang berbeda. Menu hari Senin misalnya, kali berikutnya jatuhnya di hari Kamis. Anak-suami masih bisa nanya, “Masak apa, Ma?” Masih ada element of surprise-nya.

Info tambahan yang penting: di AS aku tahu ada perusahaan yang produknya perencanaan menu. Jadi yang dijual rencana menu+resep+bahan sebanyak yang dibutuhkan resep. Pelanggan nggak perlu lagi timbang-timbang atau kira-kira bumbu. Ada juga usaha rumahan yang jual perencanaan menu. Yang usaha rumahan mungkin bisa ngasih harga lebih murah karena bahannya kita belanja sendiri. Jadi dia cuma menyediakan rencana menunya+resep+daftar belanja+info tempat belanja bahan yang ngasih harga miring. Kalau penasaran soal usaha manajemen menu, boleh baca artikel yang membandingkan nama-nama besar di bidang usaha ini dari perspektif konsumen. Meski fokus artikel itu bukan tentang efektifitas berlangganan produk perencanaan menu dalam upaya penghematan keluarga, kita bisa dapat gambaran besar tentang pengaruhnya bagi acara masak sendiri buat makan sehari-hari.

Mestinya bisa jadi usaha (beromzet sampai jutaan dolar) karena sungguhan menawarkan solusi bagi mereka yang kepalanya dah penuh dengan urusan pekerjaan dan yang bukan jago masak tapi nggak mau makan di luar tiap hari. Karenanya bisa kita simpulkan ini cara yang sangat bagus. Bukan cuma karena sanggup ngurangi dorongan makan di luar tapi juga karena bisa memastikan menunya bervariasi, 4 sehat 5 sempurna sekaligus mengasah kemampuan masak. Asal nggak males cari-cari dan coba-coba resep.

Cara#2: Bahan Separuh Jadi & Siap Olah

Gimana cara ini mengurangi dorongan makan di luar juga dijelaskan oleh 20 Second Rule tadi, tapi nggak minta komitmen sebesar Merencanakan Menu. Aku pernah punya murid IRT yang hanya memasukkan sayuran yang sudah dipotong-dicuci dan lauk yang sudah dibumbui ke dalam kulkas. Ikan, ayam, daging, tahu-tempe tinggal nggoreng. Paling nggak sudah dibersihkan, dipotong-potong dan dicuci. Nggak seperti aku gini, pulang dari warung mlijonya Mbak Ari plastik belanjaan langsung kubunthel kumasukkan kulkas semua. Tahu juga ada IRT yang memelihara kebiasaan mengupas semua persediaan bawang merah dan bawang putihnya, dimasukkan dalam wadah kedap udara lalu disimpan di kulkas. Ada yang selalu punya persediaan Bumbu Putih/Bumbu Kuning/Bumbu Merah di kulkas. Lagi-lagi dari Silmina Ulfah baru tahu selain 3 bumbu dasar itu tadi ada lagi Bumbu Gorengan yang bisa distok di kulkas. Apa aja isi itu Bumbu Gorengan silakan cari di postingan berikut. Jangan malas baca.

MENU DAY 6 : Nasi Liwet Peda, Tempe Goreng Tepung, Sambal Tomat, Tumis Cumi Asin & Tempe Goreng Biasa Paginya iseng nyoba resep yang dishare di grup @dapuremakiipdepok oleh mbak nurma. Bedanya mbak Nurma pakenya ikan teri, karena saya adanya ikan peda di kulkas, yauda cus aja dah. Nasi liwetnya bikinnya gampang bat, saya pakek magic com sih, praktis!, temennya back to gorengan, tempe goreng tepung. Nggak usah uleg bumbu nya karena dibawain ibu bumbu gorengan setoples (bikin sendiri isinya bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar dan garam). Pagi-pagi juga nyambel tomat biar makin gurih, dan goreng kerupuk udang (stok). Durasi siapin sarapan pagi (10 menit). Tumis bawang ama ikan aja, sampa cemplang cemplung bahan. Nunggu mateng ga diitung. Siang saya keluar rumah sampai sore-an gitu, baru masak buat makan malem pas abis magrib, tumis cumi ama goreng tempe (lebihan tadi pagi), bedanya kali ini nggak saya tepungin. Oiya ada tambahan belanja ke tukang sayur lagi senilai 12K (sereh, tempe, tauge, labu siam dan kacang panjang) Durasi : 20 menit Nasi Liwet Peda Beras Ikan Peda Bawang Merah Bawang Putih Daun Bawang Daun Salam Lengkuas Sereh Jahe Garam Tempe Goreng Tepung Tempe Tepung terigu, beras & tapioka Bumbu gorengan Daun Bawang Tumis Cumi Asin Cumi Asin Jagung (masih ada setengah) Buncis (Masih ada 4 lenjer) Tauge Cabe ijo Tomat (lebihan bikin sambel tadi pagi) Duo Bawang Salam Lengkuas Sereh Garam Lada Saus tiram & minyak wijen (stok) #UNDER200KFORAWEEK #silminatips #silminarecipe #belajarmasak #manajemendapur #belanjasayur #menuhariansilmina #menuharian #dapuremakiipdepok

A post shared by Silmina (@silminaulfah) on

Ini cara yang sangat efektif kalau kita sudah tahu selera seluruh keluarga dan bisa masak enak tanpa bantuan resep. Bukan favoritku karena bahan mentah yang sudah dikupas, dipotong-potong dan dicuci umur penyimpanannya lebih pendek. Harus segera diolah. Mauku sih kalau bisa belanja cukup setahun sekali.

Cara#3: Freezer Meal

Ini ide yang mateng di negara-negara industri Barat yang semua bidang kehidupannya dirasuki teknologi. Sangat bergantung pada peralatan seperti freezer kulkas, deep freezer (yang buat nyimpan es krim), microwave, insta pot, crock pot, slow cooker. Sangat praktis dan menghemat waktu sehingga luar biasa efektif mengatasi masalah malas masak karena capek atau nggak sempat akibat gaya hidup urban yang selalu sibuk dan terburu-buru. Tapi ya itu, berat di modal peralatan dan perlengkapan, dan menurutku bikin terlalu banyak sampah. Harus selalu sedia kantong plastik tebal ber-zipper berbagai ukuran, dari yang muat sepotong tempe sampai yang muat sekepala sapi. Sekali pakai buang.

Idenya sebetulnya sederhana. Bisa dibagi jadi dua kelompok besar.

Satu: bahan masakan diolah sampai ke tahap siap santap –tinggal makan— lalu disimpan di freezer. Jadi bisa masak buat seminggu di depan. Kalau mau makan tinggal ngeluarkan dari freezer untuk dihangatkan di microwave. Yang aku nggak tahu: apa rasa masakan yang baru keluar dari microwave sama dengan yang baru turun dari kompor? Aku yakin sama-sama panasnya. Tapi rasanya? Yang punya microwave tolong aku dikasih tahu.

Iiiiiiiit's SUMMER! It's summer it's summer it's summer it's summer it's SUUUMMMMEEERRR! (Said like Olaf, of course.) Can you tell I'm a weeeee excited? Except that my 6:45 alarm accidentally went off this morning…🙄… Just because it's summer doesn't mean all form and function has to go out the window. In fact, I find that when my summer is organized and planned out, I end up having more fun because I'm more efficient with my time. Try to find ways to make your life easier this summer, without sacrificing quality. One of the ways we do this is to continue to cook breakfasts for the entire week, on one day. Eggs, sausage or bacon, pancakes/waffles/whatever we want for the week. Reheat throughout the week and it's as fast as cereal, but way heartier! What's your favorite hearty breakfast? Recipes appreciated! 👇🏻#SummerAtThePages #SuperBubba💪🏻

A post shared by ❤️Jordan Page | Hey Freebs! (@funcheaporfree) on

Dua: bahan masakan diolah sampai tahap siap naik kompor. Ini biasanya untuk masakan cemplang-cemplung yang dimasak dengan insta pot, crock pot dan slow cooker. Andai Opor gitu yang mau kita freezer, air+santan+ayam+tumisan bumbu sudah dalam keadaan tercampur satu supaya bisa disimpan dalam satu kantong plastik kemudian disimpan di freezer. Di hari-H tinggal ngeluarkan dari freezer untuk dicemplungkan ke insta pot/crock pot/slow cooker. Semua punya timer, bisa di-set. Sebelum berangkat kerja masukkan, pulang dah siap.

Kalau tertarik dengan cara ini, saranku ikuti Fun, Cheap or Free di Instagram. Dia sering ngasih tip dan trik nekan biaya belanja bulanan dan nafsu makan di luar. Itu keunggulan content-nya. Sepanjang September kemarin dia bikin #shelftember Challenge; masak buat makan tiap hari selama bulan September dengan menghabiskan stok bahan makanan/masakan yang ada di rumah supaya biaya belanja bisa ditekan jadi $25 per minggu. Yang merasa anggaran segitu terlalu mepet boleh nambah tapi nggak boleh lebih dari $50 per minggu. Buat standar hidup AS itu anggaran gila! Lanjut dengan #stocktober Challenge. Memanfaatkan sepanjang bulan Oktober untuk nyetok bahan makanan dan produk primer non-makanan demi bantu-bantu berhemat sepanjang setahun ke depan.

Banyak tip yang kudapat dari dia. Salah satunya: kalau masak dobelkan jumlahnya. Separuh langsung sajikan, separuh lagi simpan di kulkas. Nggak bisa diberlakukan ke semua masakan kita. Gorengan dan olahan sayur memang nggak bisa. Masakan daging/ayam/ikan yang berkuah santan atau yang nggak berkuah tapi basah seperti Ayam Kecap mestinya bisa. Sekali kerja buat dua kali makan, lain hari. Jaga-jaga kalau kita nggak sempat masak. Atau terkena serangan malas masak mendadak.

Cara#4: Penuhi Lalu Habiskan Isi Kulkas

Kalau pingin berhemat besar, suka improvisasi, nggak rewel di urusan makan, ini cara paling menyenangkan. Harga bahan mentah kan naik-turun. Hemat besarnya adalah dengan membasiskan masak di atas bahan-bahan mentah yang harganya lagi jatuh. Tomat lagi murah? Sambel Tomat, Sup Tomat, Jus Tomat, Orak-Arik Tomat, Asam-Manis, teruskan sendiri. Kehabisan resep berbahan dasar tomat? Cari resep masakan Barat berbahan dasar tomat. Takut nggak kemakan karena rasanya nggak kena di lidah Indonesia? Improvisasi: Pecel Tomat.

Jadi pergilah ke pasar, belanja bahan-bahan mentah yang harganya lagi jatuh, yang lagi musim dan yang memang murah (karena produksi lokal misalnya) dalam jumlah banyak. Utamakan yang bisa diolah jadi teman makan nasi. Meski murah soro, beli semangka setruk nggak mbantu menghemat biaya makan. Kecuali kalau bisa mengolah daging semangka yang warnanya hijau yang dekat kulit itu jadi rupa-rupa sayuran seperti tetangga temanku. Aku juga baru tahu kalau ada orang yang bikin Bothok dari daging semangka..

Jangan belanja lagi sampai isi kulkas habis. Kalau harus beli-beli, beli bahan tambahan atau bumbu aja. Saranku beli lah di warung dekat rumah. Jangan di pasar atau tukang sayur.

Sekali lagi: ini hanya cocok untuk mereka yang lidahnya nriman dan menemukan kepuasan dalam berimprovisasi. Sepertinya sulit diterapkan ke selain lajang dan pasangan yang belum ada anak.

Cara#5: Menu Sederhana Plus Sajian Istimewa

Ini cara jagoanku. Nggak butuh disiplin diri, nggak perlu belanja heboh di pasar, cukup dengan ketrampilan masak tingkat pemula bisa nyenangkan anak-anak.

Mulai dengan tahu apa bahan kesukaan keluarga. Bahan lho ya, bukan masakan. Suami suka sekali daging dan bawang bombay, Azka suka sekali sosis dan saos tomat, Rafi suka sekali alpukat dan seterusnya. Dari situ belajar bumbu dasar masakan berkuah kaldu atau air, berkuah santan, tumisan, gorengan, gorengan bersalut tepung –mungkin  bisa ditambah kukusan dan panggangan. Racikan bumbu yang sederhana aja. Atau: bumbu instan yang enak. Atau: cara-cara menyiasati bumbu instan supaya lebih “rumahan”.

Kedua: terus cari tahu cara bikin masakan-masakan gampang itu jadinya pasti enak di lidah keluarga. Aku sudah cukup puas dengan penyedap Royco. Kalau pakai bumbu instan, selalu kutambah rajangan bawang putih dan bawang merah.

Ketiga: begitu kita dah pe-de dengan bumbu, nggak takut lagi improvisasi bahan. Biar hemat, selalu olah ayam, sosis dan daging-dagingan dalam potongan kecil atau cincangan, jangan utuh. Pastikan kita masukkan bahan preferensi tiap-tiap individu tadi. Tumisan? Kasih bawang bombay dan irisan sosis yang banyak. Ikan? Goreng dengan tepung dan dimakan dengan saos tomat. Alpukat kesukaan Rafi yang belum nemu bisa kuapakan selain dimakan gitu aja dengan gula.

Keempat:  cari tahu jajanan-buah-minuman yang bisa bikin acara makan di rumah berasa istimewa. Bisa karena itu favorit salah satu atau seluruh keluarga, bisa karena penyajiannya istimewa. Yang gampang-gampang aja. Misal:

  • sarapan nasi dan tempe goreng tapi minumnya Teh Anget,
  • makan siang nasi, Sayur Bening dan Dadar Jagung tapi ada rujak buah (pepaya-timun-bengkuang-tahu-tempe-krupuk putih),
  • makan malam nasi goreng dan roti bakar teflon,
  • Hari Minggu nasi, Cah Kangkung dan Telur Dadar tapi ada Es Buah (pepaya-nanas-bengkuang tambah perasan jeruk nipis biar segar),
  • nggak sempat masak, bikin mi goreng instan yang ditambah penthol, sosis dan sawi yang banyak, minumnya Milo Anget

Kelemahan cara ini adalah: perbendaharaan resep cenderung nggak nambah, di situ-situ aja. Terasa menyulitkan di saat harus masak buat selain keluarga. Aku sangat nggak pe-de kalau harus masak buat orang lain. Bingung kalau ada acara di rumah yang aku harus nyiapkan makan meski itu acara santai 5-10 orang atau ada saudara yang nginap sampai beberapa hari meski itu cuma satu orang. Bingung sebingung-bingungnya. Sering akhirnya harus beli, pesan atau mbayar tukang masak.

Cara#6: Rantangan non-Komersial

Ini bukan cara yang gampang dilakukan. Sangat bergantung pada faktor keberuntungan dan kejelian melihat potensi. Kalau aku cuma bisa ngasih satu contoh nggak akan kumasukkan di pos ini. Sejauh ini sudah ngumpulkan empat kasus. Jadi kurasa patut dicoba.

Di sekeliling kita banyak orang yang bisa masak dan dengan senang hati masak tiap hari untuk kita kalau kita minta. Karena orang-orang ini berangkatnya memang bukan cari untung, mereka biasanya sudah cukup senang kalau uang yang kita bayarkan cukup untuk belanja bahan mentah di pasar. Istilahnya makan nunut. Gampangnya gini: mereka membayar biaya makan keluarganya dengan tenaga masak-masak, yang dipakai belanja uang dari kita.

Aku dan seorang teman yang manajer marketing perusahaan peralatan olahraga pakai cara ini berangkat dari sering dikasih masakan. Aku bolak-balik dikasih masakan sama ART part-time-ku, temanku itu sering dibawakan makan siang sama office girl-nya. Kami berdua jadi nggak enak hati, khawatir mereka merugikan diri sendiri. Kalau seminggu sampai 2-3 kali kan lumayan juga jatuhnya. Jadi sekalian aja dijadikan uang tambahan (buat mereka). Caranya gampang, bilang aja kita minta dimasakkan tiap hari lalu kasih budget, “Seminggu Kak kasih 150 ribu cukup, Mbak Tin? Menunya terserah Mbak Tin. Pokoknya jangan sampai Mbak Tin rugi.”

Orang-orang yang sering ngasih kita masakan sudah pasti suka sama kita. Sejak awal niat mereka kan bukan cari untung jadi dikasih budget berapa pun mereka nggak akan keberatan. Kitanya yang harus tahu diri. Jangan sampai mereka rugi tapi juga jangan tinggi-tinggi. Sesuaikan dengan yang biasa mereka masak. Meski niat kita baik, supaya mereka untung, mereka jadi memaksakan diri masak yang nggak biasanya mereka masak –tiap hari jadi masak ayam atau daging padahal biasanya ngasih trio tahu, tempe, telur— hanya  untuk meyakinkan diri yang kita terima pantas dengan uang yang kita keluarkan. Ingat, mereka ini bukan katering dan rantangan profesional yang bisa matok harga. Kenal dekat dan disukai orang-orang seperti ini yang kumaksud dengan keberuntungan.

Yang merasa dirinya tidak seberuntung aku dan temanku itu, baca terus.

Salah satu teman yang ngatur keuangan lembaga tempat dia kerja selalu bisa cari jalan alternatif untuk nyediakan makan siang para staf selain katering/rantangan profesional. Pertama dengan mempekerjakan office boy yang bisa masak. Aku nggak tahu apa dia memang sengaja cari yang bisa masak atau karena lihat si office boy (yang tidur di kantor karena rumahnya di luar kota) selalu masak sendiri. Setelah si office boy resign, temanku itu mendekati Mbah yang buka warung persis di depan SD yang berseberangan dengan kantor. Karena pasarnya si Mbah ini guru, ortu murid yang lagi ngantar-jemput anaknya dan anak-anak SD, bisa dibayangkan apa yang tersedia di warungnya. Berapa orang yang terpikir untuk mendekati warung seperti ini dan menegosiasikan katering makan siang setiap hari kerja untuk sekian orang pekerja lembaganya? Aku nggak tahu berapa yang harus dibayar tiap bulan oleh temanku itu tapi pasti lebih murah dari katering/rantangan profesional. Ini yang kumaksud dengan kejelian melihat potensi.

image

Kalau harus kusimpulkan, nggak ada satu cara yang paling sanggup nekan biaya makan. Tergantung sekali sama kebiasaan makan keluarga dan keahlian masak kita. Yang baru belajar masak dan nggak butuh/bernafsu jadi jago masak kusarankan pakai Masakan Gampang Plus Sajian Istimewa. Yang lidah suami dan anak-anaknya rewel kusarankan pakai Perencanaan Menu. Yang super sibuk sepertinya harus beli deep-freezer atau kulkas empat pintu dan microwave. Kalau dananya nggak ada ya coba dulu cara langsung memproses belanjaan jadi separuh-jadi atau siap olah begitu pulang dari pasar atau tukang sayur. Yang harus masak untuk lebih dari 5 orang dewasa setiap hari padahal bekerja dan nggak punya ART, saranku cari lah rantangan non-komersial.

Yang sangat efektif buatku adalah menggabungkan Cara#4 dan 5 dengan sedikit modifikasi. Yang kulakukan bukan menuhi kulkas tapi selalu mulai dari kulkas. Sebelum belanja lihat isi kulkas dulu, mikir masakan apa yang bisa kuhasilkan dari apa yang ada di kulkas supaya belanjanya bisa kutekan.

Satu yang harus diperhatikan:

nggak ada satu pun cara yang menyebut-nyebut belanja setiap hari. Kecuali kita punya disiplin diri dan ketegasan level advance, bisa menetapkan anggaran belanja harian dan taat anggaran, kusarankan untuk belajar belanja t-i-d-a-k setiap hari.

Aku nggak bisa njawab pertanyaan tentang resep dan masakan, tapi bisa lah mikir jawaban untuk pertanyaan tentang biaya makan. Ini biaya pertama yang harus digarap kalau ingin serius berhemat. Jadi jangan sungkan untuk tanya.

image

Advertisements

9 thoughts on “6 Cara Jenius Menghemat Biaya Makan

  1. Menurutku yang cocok buatku juga no 4 dan 5 dengan improvisasi pula, kelemahanku di stok bumbu mentah harus banyak supaya tidak kebingungan dengan isi kulkas yang seringnya dapat gratisan. Alhamdulillah. Suka sekali tips nya …. Terima Kasih ….

    1. Baru ingat aku sekarang: untuk belanja harus ke pasar ya, Mi? Iya, ya, alhamdulillah ada tetangga yang mracang. Nggak ada Mbak Ari gitu ya harus nyetok bumbu. Konyol juga kalau ke pasar cuma buat beli cabe rawit Rp2.000..

  2. Terima kasih mba rinda tipsnya..sangat membantu (banget) harus disiplin kuncinya, dulu aku pernah coba dengan stok bahan untuk 1minggu tapi di hari ke berapa suka tergoda masakan lain yg mengharuskan aku beli bahan baru atau bahkan “jajan”
    Tapi sekarang alhamdulilah udah selalu begitu bahan di kulkas belom abis ga pergi ke warung sayur, sekali lagi jangan bosan nulis ya mba 😘

    1. Kalau bosan sih mungkin nggak, Endah. Tapi jujur aja aku pingin sekali tulisanku bisa jadi uang. Aku dah mulai merasa nggak cukup dengan dibaca dan direspon orang. Manusia.. Nggak pernah merasa cukup..

  3. Halo kak, salam kenal, saya Desi
    Wah terimakasih sekali atas sarannya. Sangat inspiratif. Saya juga sedang mengalami masalah menatus keuangan keluarga. Dan sangat setuju, biaya makan adalah yang paling besar.
    Terus semangat kak untuk membuat tulisan inspiratif 🙂

    1. Aku deh yang harus terima kasih, Mbak Desi. Tiap kali ada yang bilang artikelku bermanfaat berasa energi baru untuk terus berusaha memperbaiki keuangan rumah tanggaku sendiri tanpa kembali bekerja sembari membagi yang kupelajari di sini dan di Instagram. Kita bisa!

  4. bermanfaat banget mbak artikelnya, malah kepikiran buka usaha setelah baca ini. tapi sementara mbenahi urusan makan keluarga dulu aja deh..hehe.. salam kenal ya mbak..

    1. Halo, Anne. Maaf baru balas. Dua mingguan stres gegara hutang postingan. Makin kudalami keuangan rumah tangga nih makin bikin pening..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s